Langsung ke konten utama

Kisah Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi




“Ya Allah, berikanlah sebuah bukti kepadanya atas kebaikan yang dia niatkan.”
(Dari doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuknya)

Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi adalah kepala kabilah Daus di masa jahiliyah, salah seorang pemuka orang-orang Arab yang berkedudukan tinggi, satu dari para pemilik muru’ah yang diperhitungkan orang banyak.

Panci miliknya tidak pernah turun dari api karena senantiasa di pakai untuk memasak dalam rangka menjamu tamu dan pintu rumahnya tidak pernah tertutup dari tamu yang mengetuk untuk bermalam.

Dia adalah potret manusia yang memberi makan orang yang lapar, memberi rasa aman bagi orang yang takut, dan memberi perlindungan kepada orang yang memerlukan perlindungan.

Di samping itu, dia adalah seorang sastrawan cerdik lagi ulung, seorang penyair dengan ilham besar dan perasaan lembut, mengenal dengan baik kata-kata yang manis dan pahit, dimana kalimat berperan padanya layaknya sihir.

Ath-Thufail meninggalkan kampung halamannya di Tihamah[1] menuju Mekah pada saat terjadi pertentangan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dengan orang kafir Quraisy, di saat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha menyampaikan dakwah Islam kepada penduduknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru mereka kepada Allah, senjata beliau adalah iman dan kebenaran. Sementara orang-orang kafir Quraisy memerangi dakwah beliau dengan segala macam senjata, menghalang-halangi manusia darinya dengan berbagai macam cara.

At-Thufail melihat dirinya masuk ke dalam pertentangan ini tanpa persiapan, menerjuni lahannya tanpa dia kehendaki sebelumnya.

Dia tidak datang ke Mekah untuk tujuan tersebut, perkara  Muhammad dan orang-orang Quraisy tidak pernah terbesit dalam pikirannya sebelum ini.

Dari sini ath-Thufail bin Amru ad-Dausi mempunyai    kisah dengan pertentangan ini yang tidak terlupakan. Kita simak kisah tersebut, karena ia termasuk kisah yang sangat menarik.

Ath-Thufail berkisah,

Aku datang ke Mekah, begitu para pembesar Quraisy melihatku, mereka langsung menghampiriku, menyambutku dengan sangat baik dan menyiapkan tempat singgah yang terbagus bagiku.

Kemudian para pemuka dan pembesar Quraisy mendatangiku sembari berkata, “Wahai Thufail, sesungguhnya kamu telah datang ke negeri kami, dan laki-laki yang menyatakan dirinya sebagai nabi itu telah merusak urusan kami dan memecah-belah persatuan kami serta mencerai-beraikan persaudaraan kami. Kami hanya khawatir apa yang menimpa kami ini akan menimpamu sehingga mengancam kepemimpinanmu atas kaummu. Oleh karena itu, jangan berbicara dengan laki-laki itu, jangan mendengar apa pun darinya, karena dia mempunyai kata-kata seperti sihir, memisahkan seorang anak dari bapaknya, seorang saudara dari saudaranya, seorang istri dari suaminya.”

Ath-Thufail berkata,

Demi Allah, mereka terus menceritakan berita-beritanya yang aneh, menakut-nakutiku atas diri dan kaumku dengan perbuatan-perbuatan Muhammad yang terkutuk dan tercela sampai aku pun bertekad bulat untuk tidak mendekat kepadanya, tidak berbicara dengannya dan tidak mendengar apa pun darinya.

Manakala aku berangkat ke Masjidil Haram untuk melakukan thawaf di Ka’bah dan mencari keberkahan kepada berhala-berhala yang kepada merekalah kami menunaikan ibadah haji dan kepada merekalah kami mengagungkan, aku menyumbat kedua telingaku dengan kapas karena aku takut ada perkataan Muhammad yang menuyusup ke telingaku.

Begitu aku masuk masjid, aku melihat Muhammad sedang berdiri. Dia shalat di Ka’bah dengan shalat yang berbeda dengan shalat kami, beribadah dengan ibadah yang berbeda dengan ibadah kami, pemandangan itu menarik perhatianku, ibadanya menggugah nuraniku. Tanpa sadar aku melihat diriku telah mendekat kepadanya sedikit demi sedikit, sehingga tanpa kesengajaan diriku telah benar-benar dekat kepadanya.

Allah pun membuka hatiku, sebagian apa yang diucapkan Muhammad terdengar olehku, aku mendengar ucapan yang sangat indah. Aku berkata kepada diriku, “Celaka kamu wahai Thufail, sesungguhnya kamu adalah laki-laki penyair yang cerdas, kamu mengetahui yang baik dan yang buruk, apa yang menghalangimu untuk mendengar ucapan laki-laki ini? Jika apa yang dia bawa itu baik, maka kamu harus menerimanya, jika buruk maka kamu harus membuangnya.”

Ath-Thufail berkata, “Aku diam sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan tempatnya menuju rumahnya, aku mengikutinya sampai dia masuk ke dalam rumahnya dan aku pun masuk kepadanya. Aku berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kaumku telah berkata tentangmu begini dan begini. Demi Allah, mereka terus menakut-nakuti dari ajaranmu sampai aku menutup kedua telingaku dengan kapas agar aku tidak mendengar kata-katamu. Kemudian Allah menolak itu semua dan membuatku mendengar sebagian dari ucapanmu. Aku melihatnya baik, maka jelaskan ajaranmu kepadaku.”

Di saat itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan agamanya kepadaku, beliau membacakan surat al-Ikhlas dan al-Falaq. Demi Allah, aku tidak pernah mendengar sbuah ucapan yang lebih bagus dari ucapannya, aku tidak melihat sebuah perkataan yang lebih adil daripada perkaranya.

Pada saat itu aku ulurkan tanganku untuknya, aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, aku masuk Islam.”

Ath-Thufail berkata,

Kemudian aku tinggal di Mekah beberapa waktu. Selama di sana aku belajar ajaran-ajaran Islam dan aku menghafal Alquran yang mungkin untuk aku hafal. Ketika aku berniat untuk pulang ke kabilahku, aku berkata, “Rasulullah, sesungguhnya aku ini adalah laki-laki yang ditaati di kalangan kaumku, aku akan pulang untuk mengajak mereka kepada Islam. Berdoalah kepada Allah agar Dia memberiku sebuah bukti untuk mendukungku dakwahku kepada mereka.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah berikanlah dia sebuah bukti.”

Aku pun pulang kepada kaumku, ketika aku tiba di sebuah tempat yang dekat dengan perkampunganku, tiba-tiba secercah cahaya muncul di keningku seperti lampu, maka aku berkata, “Ya Allah, pindahkanlah ia ke tempat lain, karena aku khawatir mereka akan mengira bahwa ini merupakan hukuman yang menimpa wajahku karena aku meninggalkan agama mereka.”

Maka cahaya itu berpindah ke ujung semetiku, orang-orang melihat cahaya tersebut di ujung cemetiku seperti lampu yang tergantung, aku turun kepada mereka dari sebuah jalan di bukit. Manakala aku tiba di perkampungan, bapakku yang sudah berumur lanjut menyambutku, aku berkata kepadanya, “Menjauhlah engkau dariku, aku bukan termasuk golonganmu dan engkau bukan termasuk golonganku.”

Bapakku bertanya, “Mengapa wahai anakku?”

Aku menjawab, “Aku telah masuk Islam, aku mengikuti Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Dia berkata, “Anakku, agamamu adalah agamaku juga.”

Aku berkata, “Pergilah, mandilah dan sucikanlah pakaianmu, kemudian kemarilah aku akan mengajarimu apa yang aku ketahui.”

Maka bapakku pun pergi, dia mandi dan menyucikan bajunya, kemudian dia datang dan aku menjelaskan Islam kepadanya dan dia masuk Islam.

Kemudian istriku datang kepadaku, aku berkata kepadanya, “Menjauhlah dariku, aku bukan termasuk golonganmu dan kamu bukan termasuk golonganku.

Dia bertanya, “Bapak dan ibumu sebagai jaminanku, mengapa?”

Aku menjawab, “Islam memisahkan antara diriku dengan dirimu, aku telah mengikuti Muhammad.”

Dia berkata, “Agamamu adalah agamaku.”

Aku berkata, “Pergilah dan jauhilah air Dzi asy-Syura.”[2]

Dia berkata, “Bapak dan ibuku sebagai jaminanku, apakah kamu takut sesuatu terhadap wanita ini karena Dzi asy-Syura?”

Aku menjawab, “Celaka kamu dan celaka juga Dzi asy-Syura, aku katakan kepadamu, ‘Pergilah, mandilah di sana jauh dari penglihatan orang-orang aku menjamin bahwa batu pejal itu tdak akan melakukan apa pun terhadapmu.”

Dia pun pergi untuk mandi, kemudian dia datang, aku menjelaskan Islam kepadanya, maka dia masuk Islam.

Kemudian aku mengajak kaumku Daus, namun mereka tidak menjawab dengan segera, kecuali Abu Hurairah, dia adalah orang yang paling cepat menjawab seruanku.

Ath-Thufail berkata,

Aku datang bersama Abu Hurairah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah. Di saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Hati kaummu masih tertutupi sekat tebal dan kekufuran yang keras. Orang-orang Daus telah dikuasai oleh kefasikan dan kemaksiatan.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri mengambil air, beliau wudhu kemudian mengerjakan shalat, beliau mengangkat kedua tangan beliau ke langit. Abu Hurairah berkata, “Manakala aku melihat beliau melakukan itu, aku takut beliau berdoa buruk atas kaumku, akibatnya mereka akan binasa. Maka aku berkata, ‘Celaka kaumku.”

Tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada Daus. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada Daus. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada Daus.”

Kemudian beliau menoleh kepada ath-Thufail dan berkata, “Pulanglah kepada mereka, serulah mereka kepada Islam dengan lemah lembut.”

Ath-Thufail berkata,

Aku terus tinggal di kampung Daus, aku mengajak mereka kepada Islam sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah. Perang Badar, Uhud, dan Khandaq berlalu. Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama delapan puluh keluarga dari Daus yang telah masuk Islam dan mereka konsisten terhadap ajaran Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbahagia dengan kehadiran kami, beliau memberikan bagian dari harta rampasan perang Khaibar kepada kami sama dengan kaum muslimin lainnya.

Kami berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, jadikanlah kami sebagai sayap kanan pasukanmu dalam setiap peperangan yang engkau terjuni. Jadikanlah syiar kami, ‘Mabrur.”

Ath-Thufail berkata,

Setelah itu aku terus bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai Allah Ta’ala membuka Mekah untuk beliau. Aku berkata, “Ya Rasulullah, tugasilah aku ke Dzul Kafain untuk menghancurkan berhala Amru bin Hamamah, aku ingin menghancurkannya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya, ath-Thufail berangkat dengan sebuah pasukan yang terdiri dari kaumnya.

Ketika ath-Thufail tiba di sana, dia hendak membakarnya, kaum laki-laki wanita dan anak-anak memperhartikannya, mereka berharap ath-Thufail akan ditimpa keburukan, mereka berharap sebuah halilintar menyambarnya jika dia menghancurkan Dzul Kafain.

Namun ath-Thufail tetap bergerak maju kepada berhala tersebut di hadapan tatapan mata para pemujanya.

Ath-Thufail menyalakan api, membakar dada berhala itu sambil bersyair,

Wahai Dzul Kafain, aku tidak termasuk pemujamu

Kelahiran kami mendahului kelahiranmu

Sesungguhnya aku membakar dadamu dengan api.

Api melahap berhal itu, sekaligus melahap sisa-sisa syirik yan ada pada kabilah Daus, maka mereka semuanya masuk Islam dan mereka pun memiliki komitmen yang kuat terhadap Islam.

Setelah itu ath-Thufail bin Amru ad-Dausi senantiasa mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau wafat dan berpulang ke hadapan Rabbnya.

Setelah itu khilafah berpindah ke tangan Abu Bakar, ath-Thufail memberikan jiwanya, pedangnya dan anaknya dalam menaati khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika perang Riddah berkecamuk ath-Thufail berada di barisan depan bala tentara kaum muslimin untuk memerangi Musailamah al-Kadzdzab, putranya pun ikut bersamanya.

Ketika dia sedang menuju Yamamah, ath-Thufail bermimpi, dia berkata kepada kawan-kawannya, “Aku bermimpi, tolong jelaskan kepadaku apa artinya?”

Mereka bertanya, “Mimpi apa?”

Dia berkata, “Aku bermimpi kepalaku dicukur, seekor burung keluar dari mulutku, seorang wanita memasukkanku ke dalam perutnya, anakku Amru mencari-cari diriku dengan gigih namun antara diriku dengan dirinya terdapat penghalang.”

Mereka berkata, “Itu mimpi yang baik.”

Selanjutnya ath-Thufail berkata, “Aku sudah bisa mengartikan makna mimpiku. Kepalaku dicukur, artinya ia dipotong. Seekor burung keluar dari mulutku, artinya arwahku meninggalkan jasadku. Wanita yang memasukkanku ke dalam perutnya adalah bumi yang digali lalu aku dikubur di sana. Anakku yang gigih mencariku, artinya dia mengharapkah syahadah yang akan aku dapatkan dengan izin Allah, anakku akan mendapatkannya kelak.”

Di perang Yamamah, shahabat yang mulia Amru bin ath-Thufail ad-Dausi berperang dengan gigih, memperlihatkan kepahlawanannya dengan gagah berani, sampai dia gugur sebagai syahid di bumi perang Yamamah.

Adapun anaknya, Amru, maka dia terus berperang sampai tubuhnya penuh luka, tangan kananya terpotong, dia pulang ke Madinah meninggalkan bapaknya sementara tangan kanannya dikubur di bumi Yamamah.

Di masa khilafah Umar bin al-Khatthab, Amru bin ath-Thufail datang menemuinya, tatkala makanan dihidangkan kepada al-Faruq sementara orang-orang yang duduk di sekelilingnya dipersilahkan untuk menyantap hidangan, Amru justru malah menjauh darinya. Maka al-Faruq bertanya kepadanya,

“Ada apa dengan dirimu? Apakah kamu menjauh dari makanan ini karena kamu merasa malu kepada tanganmu?”

Dia menjawab, “Benar wahai Amirul Mukminin.”

Umar pun berkata, “Demi Allah, aku tidak menyantap makanan ini sehingga kamu mencampurnya melalui bagian tanganmu yang terputus itu. Demi Allah, di antara yang hadir ini tidak ada seseorang yang sebagian organnya telah tinggal di surga selainmu –maksudnya adalah tangannya-.

Impian syahadah terus berkibar dalam angan-angan Amru sejak dia berpisah dari bapaknya. Perang Yarmuk[3] tiba, Amru bin ath-Thufail bersegera berpartisipasi di dalamnya bersama orang-orang yang bersegera, dia berperang sehingga dia meraih syahadah yang diharapkan oleh bapaknya untuknya.

Semoga Allah merahmati ath-Thufail bin Amru ad-Dausi, seorang syahid dan bapak dari seorang syahid.[4]


Ket.

[1] Tihamah adalah lembah pesisir di Jazirah Arab yang bersebelahan dengan Laut Merah
[2] Dzu asy-Syura adalah berhala milik kabilah Daus, dikelilingi oleh air yang turun dari sebuah gunung.
[3] Perang Yarmuk adalah salah satu peperangan yang menentukan dalam sejarah, terjadi pada tahun lima belas Hijriyah, dalam perang ini kaum muslimin unggul atas orang-orang Romawi secara gemilang.
[4] Untuk mendambah wawasan tentang ath-Thufail bin Amru ad-Dausi silahkan merujuk:
al-Ishabah, (II/225) atau (at-Tarjamah) (4254); al-Isti’ab (II/225) di bagian bawah al-Ishabah, (II/230); Usudul Ghabah, (III/54-55); Shifah ash-Shafwah, (I/245-246); Siyar A’lam an-Nubala’, (I/248-250); Mukhtashar Tarikh Dimisyq, (VII/59-64); al-Bidayah wa an-Nihayah, (VI/337); Syuhada’ al-Islam, (138-143); Sirah Bahal, Muhammad Zaidan, diterbitkan oleh ad-Dar as-Suudiyah tahun 1386 H.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akulah Seburuk-Buruk Penghafal Alquran

Akulah Seburuk-Buruk Penghafal Alquran Madrasah Muslimah , Peristiwa Perang Yamamah, perang menghadapi bani Hanifah, kaumnya Musailimah al-Kadzab, adalah bentrok paling sengit versus kelompok murtad. Perang ini memiliki cerita tersendiri bagi penghafal Alquran. Panglima pasukan, Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu, memberi mandat kepada pemegang bendera. Bendera tak boleh jatuh dari tangan mereka kecuali karena mati. Dan jangan pula diambil dari mereka kecuali sebelumnya ruh mereka telah diambil. Bendera Muhajirin dipanggul oleh Abdullah bin Hafsh bin Ghanim al-Qurasyi. Panji Muhajirin terus berkibar bersamanya hingga ia terbunuh. Kemudian diserahkan kepada Salim, maula Abi Hudzaifah radhiallahu ‘anhu. Salim mengatakan, “Aku tidak mengerti, mengapa kalian serahi aku bendera ini? Menurut kalian penghafal Alquran akan teguh kokoh hingga wafat, sebagaimana pemegang sebelumnya?” Orang-orang Muhajirin mengatakan, “Iya, lihat apa yang akan terjadi nanti? Apa engkau khawatir kami ditimpa k...

Abu Ubaidah Al-Jarrah, Orang Kepercayaan Umat Yang Dijuluki Amirul Umara

Abu Ubaidah Al-Jarrah, Orang Kepercayaan Umat Yang Dijuluki Amirul Umara Sahabat inilah yang pertama-tama dijuluki sebagai pemimpin para pemimpin (Amirul Umara). Dialah orang yang dipegang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kanannya seraya bersabda mengenai dirinya, إِنَّ لَكُمْ أُمَّةً أَمِيْنًا، وَإِنَّ أَمِيْنَ هذِهِ اْلأُمَّةِ أَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ اْلجَرَّاحِ “Sesungguhnya setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.“ Orang kepercayaan inilah yang disebut-sebut Al-Faruq radhiallahu ‘anhu pada saat akan menghembuskan nafas terakhirnya, “Seandainya Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu masih hidup, niscaya aku menunjuknya sebagai penggantiku. Jika Rabb-ku bertanya kepadaku tentang dia, maka aku jawab, ‘Aku telah menunjuk kepercayaan Allah dan kepercayaan Rasul-Nya sebagai penggantiku’.” Ia masuk Islam lewat perantaraan Ash-Shiddiq di masa-masa awal Islam sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi...

Kisah Rasulullah Membelah Bulan

Walau sudah banyak tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran risalah yg dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, namun itu semua tidak menjadikan seluruh penduduk Mekkah percaya dan beriman kepada Nabi Muhammad. . Mereka bahkan meminta bukti dan mukjizat yg dapat menujukkan kebenaran dari dakwah yg beliau sampaikan. . Maka dengan izin Allah subhanahu wata'ala, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dapat membelah bulan menjadi dua bagian. Dan itu dapat membungkam kesombongan dari kaum kafir yg tdk mau beriman terhadap risalah beliau. . Dari Ibnu Mas'ud beliau berkata, انْشَقَّ الْقَمَرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسل...

Mencampur Kurma Dan Mentimun

Di zaman Rasulullah, sayuran ini sudah dipakai sebagai salah satu bahan untuk kesehatan. Biasanya, ia dikombinasi dengan kurma segar untuk menjaga kesehatan. Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sering melakukannya. Dari Aisyah bahwasanya, “Rasulullah sering makan mentimun dicampur dengan kurma basah.”(Riwayat Tirmidzi) Selain untuk menjaga kesehatan, kombinasi keduanya juga untuk meningkatkan berat badan dan mengubah bentuk tubuh yang semula kurus ceking menjadi lebih berisi. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘anha ketika hendak dipertemukan dengan Rasulullah, rutin mengkonsumsi mentimun dan kurma basah untuk mendapatkan tubuh yang ideal. Maklum, ketika itu tubuhnya kecil dan kurus. Aisyah berkata, “Ibuku mengobatiku agar aku kelihatan gemuk, saat dia hendak mempertemukan aku dengan Rasulullah, dan usaha itu tidak membuahkan hasil sehingga aku memakan timun dengan kurma basah. Kemudi...

Cara Ta'aruf Sesuai Syariat Islam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du . Bagaimana Cara Ta’aruf yang Benar? . Tidak ada cara khusus dalam masalah ta’aruf. Intinya bagaimana seseorang bisa menggali data calon pasangannya, tanpa melanggar aturan syariat maupun adat masyarakat. Hanya saja, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan terkait ta’aruf . 1.Sebelum terjadi akad nikah, kedua calon pasangan, baik lelaki maupun wanita, statusnya adalah orang lain. Sama sekali tidak ada hubungan kemahraman. Sehingga berlaku aturan lelaki dan wanita yang bukan mahram. . Mereka tidak diperkenankan untuk berdua-an, saling bercengkrama, dst. Baik secara langsung atau melalui media lainnya. . Nabi ﷺ mengingatkan, “Jangan sampai kalian berdua-duaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya), karena setan adalah orang ketiganya.” (HR. Ahmad dan dishahihkan Syu’aib al-Arnauth). . Setan menjadi pihak ketiga, tentu bukan karena ingin merebut calon pasangan anda. ...

Kisah Abu Uqail Meninggal dengan Jari Menunjuk Ke Langit

Kisah Abu Uqail Meninggal dengan Jari Menunjuk Ke Langit Dari Ja’far bin Abdillah bin Aslam berkata, “Tatkala Perang Yamamah berlangsung dan kaum muslimin berada di tengah medan perang, orang yang pertama kali mendapat luka adalah Abu Uqail. Dia terkena panah pada bagian antara kedua bahu dan dadanya namun tidak meninggal dunia. Kemudian panah itu dicabut sehingga pada siang hari tangan kirinya terasa lemah. Kemudian ia dibawa ke dalam kemah. Ketika peperangan semakin memanas, umat Islam tampak mengalami kekalahan serta mulai melewati batas yang ditentukan, sementara itu Abu Uqail dalam kondisi lemah karena luka, tiba-tiba ia mendengar Ma’n bin Addy menyeru, ‘Wahai kaum Anshar, mohonlah pertolongan kepada Allah, mohonlah pertolongan kepada Allah, seranglah musuhmu!’ Ibnu Umar berkata, “Setelah mendengar seruan itu Abu Uqail berdiri untuk menemui kaumnya. Maka aku bertanya, ‘Apa yang kamu inginkan? Kamu tidak wajib menyerang!’ Abu Uqail menjawab, ‘Tadi ada seseorang memanggil namaku.’ A...

Jangan Bedakan Makanan Majikan Dan Pembantu

Indahnya Islam MAKANAN MAJIKAN DAN MAKANAN PEMBANTU Saudaraku, banyak diantara kita yang belum tau bahwa pelayan atau pembantu dirumah kita memiliki hak yang sama terhadap makanan yang kita makan. . Seringkali kita dengar bahwa majikan makan di meja makan, sementara pembantu makan di dapur. Makanan majikan dan makanan pembantu berbeda, sang majikan makan ayam goreng, pembantu makannya tempe dibalut tepung ayam goreng. . Benarkah ini? Bagaimana adab yang diajarkan Rasululloh shallallāhu 'alayhi wa sallam? . Nabi kita Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda, . إِذَا أَتَى أَحَدَكُمْ خَادِمُهُ بِطَعَامِهِ فَإِنْ لَمْ يُجْلِسْ...

Mengenal Mariyah Al-Qibtiyah - Madrasah Muslimah

Mengenal Mariyah Al-Qibtiyah Madrasah Muslimah - Seorang wanita asal Mesir yang dihadiahkan oleh Muqauqis, penguasa Mesir, kepada Rasulullah tahun 7 H. Setelah dimerdekakan lalu dinikahi oleh Rasulullah dan mendapat seorang putra bernama Ibrahim. Sepeninggal Rasulullah dia dibiayai oleh Abu Bakar kemudian Umar dan meninggal pada masa kekhalifahan Umar. Dari Mesir ke Yastrib Tentang nasab Mariyah, tidak banyak yang diketahui selain nama ayahnya. Nama lengkapnya adalah Mariyah binti Syama’un dan dilahirkan di dataran tinggi Mesir yang dikenal dengan nama Hafn. Ayahnya berasal dan Suku Qibti, dan ibunya adalah penganut agama Masehi Romawi. Setelah dewasa, bersama saudara perempuannya, Sirin, Mariyah dipekerjakan pada Raja Muqauqis. Rasulullah mengirim surat kepada Muqauqis melalui Hatib bin Abi Baltaah, rnenyeru raja agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima Hatib dengan hangat, namun dengan ramah dia menolak memeluk Islam, justru dia mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernam...

Kisah Perang Mu’tah

Kisah Perang Mu’tah Ketangguhan tiga panglima perang Mu’tah Singkatnya, pasukan Islam yang berjumlah 3000 personel diberangkatkan. Ketika mereka sampai di daerah Ma’an, terdengar berita bahwa Heraklius mempersiapkan 100 ribu pasukannya. Selain itu, kaum Nasrani dari beberapa suku Arab pun telah siap dengan jumlah yang sama. Mendengar kabar demikian, sebagian sahabat mengusulkan supaya meminta bantuan pasukan kepada Rasulullah atau beliau memutuskan suatu perintah. Abdullah bin Rawahah lantas mengobarkan semangat juang para Sahabat pada waktu itu dengan perkataannya, “Demi Allah, sesungguhnya perkara yang kalian tidak sukai ini adalah perkara yang kamu keluar mencarinya, yaitu syahadah (gugur di medan perang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala). Kita itu tidak berjuang karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk agama ini yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan kita dengannya. Bergeraklah. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau gugur (syahid) di meda...

Mengenal Istri Nabi - Mariyah al-Qibthiyah

Madrasah Muslimah , Mariyah binti Syam’un al-Qibthiyah adalah seorang wanita yang berasal dari Mesir. Pada tahun 7 H, Raja Iskandariyah (Mesir), Muqauqis, mengirim Mariyah untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat Hatib bin Abi Balta’ah lah yang menjaganya dalam perjalanan menuju Madinah. Saat bertemu Nabi, ia memeluk Islam. Memeluk Islam Pada tahun ke-6 H, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendakwahi raja-raja. Beliau mengirimi mereka surat. Mengajak mereka memeluk Islam. Di antara raja yang mendapatkan surat tersebut adalah Muqauqis, Raja Iskandariyah Mesir. Sebagai respon atas surat tersebut, Muqauqis memberikan pemberian yang banyak kepada Nabi. Di antaranya adalah Mariyah dan saudari perempuannya yang bernama Sirin. Juga termasuk Khasi, saudara laki-laki Mariya. Ia juga menghadiahi nabi banyak emas. 20 helai baju yang lembut. Seekor bighal dan keledai. Hadiah-hadiah itu dititipkan kepada sahabat Hatib bin Abi Balta’ah radhiallahu ‘anhu. Hatib mendakwahi Mariyah, Sir...