Langsung ke konten utama

Ciri Khas Manhaj Salaf

Sebagian kekhususan para ulama salaf dan ciri khas manhaj mereka secara ringkas :

↔ 1. I’timâd (berpegangnya) mereka dengan nushush (nash-nash) al-Kitâb dan as-Sunnah dengan pemahaman yang shaĥîĥ, dan interaksi mereka terhadap nash-nash ini yang tercermin dalam kehidupan mereka, baik dalam amal dan ilmu, baik dalam perkataan dan perbuatan, secara zhahir dan bathin, sesuai batasan firman Allôh Azza wa Jalla :

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah.” (QS al-Hasyr : 7)

↔ 2. Niat yang lurus dan tujuan yang baik terhadap semua hal yang mereka lakukan dan yang mereka tinggalkan. Disertai dengan kesabaran, ĥikmah dan al-Mau’izhah al-Ĥasanah (pelajaran/nasehat yang baik) yang dianggap merupakan asas utama di dalam menegakkan dakwah Islâm.

↔ 3. Iltizâm (berpegang kuat) secara sempurna terhadap manhaj para Nabi dan Rasūl yang mulia di dalam dakwah mereka yang diridhai, berperangai dengan akhlaq mereka yang suci, yang terpancar dari kaidah-kaidah syar’iyah.

↔ 4. Jalan dan manhaj yang jelas di dalam aktivitas dakwah ilallâh dan amar ma’rūf nâhi munkar, tidak bersifat sirriyah (sembunyi-sembunyi) dan tidak pula mendirikan organisasi atau jama’ah-jama’ah rahasia sebagaimana yang dilakukan oleh kaum hizbîyūn harokîyūn di setiap negeri kaum muslimin. Namun as-Salaf, mereka menampakkan dakwah mereka secara terang-terangan di dalam dakwah ilallâh dan ta’lim (mengajarkan) hamba-hamba Allôh, mereka curahkan nasehat bagi ummat menurut keadaan dan kedudukannya, serta beramar ma’rūf nâhi munkar dalam batasan kemampuan syar’iyah dan menetapi adab-adab Islamiyah.

↔ 5. Mencintai sikap berlapang-lapang (at-Tawassu’) di dalam ilmu syar’iyah dan wasa`il (sarana-sarananya), dikarenakan Allôh dan Rasūl-Nya mencintai hal ini. Tidak sedikit ayat dan ĥadîts yang memuji dan menyanjung sifat ini. Oleh karena itu, tidak perlu kita menghiraukan tuduhan yang mengatakan bahwa salafîyun adalah penghafal matan dan catatan kaki [sebagaimana tuduhan DR. ’Abdullâh ’Azzâm –semoga Allô merahmati beliau dan mengampuni dosa kami dan beliau- di dalam Majalah al-Jihâd, no. 53 dalam artikel berjudul ”Jâ`al Haq wa Zahaqol Bâthil”, th. 1989].

Karena Allôh sendiri yang memuji sebagaimana dalam firman-Nya :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujâdilah : 11)

Dan Firman-Nya :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

”Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Fâthir : 28)

Juga di dalam sabda Nabî Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam :

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

”Barangsiapa yang Allôh mengehendaki kebaikan pada seseorang, niscaya ia fahamkan ia di dalam agama, dan sesungguhnya ilmu itu adalah dengan belajar.” [Muttafaq ’alayhi].

Dan sabda beliau :

إِنَّمَا العُلَمَاء ورَثَةُ الأَنْبِيَاءِ

”Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabî.” [HR Abū Dâwud, Tirmidzî dan Ibnu Ĥibbân].

↔ 6. At-Tawâdhu’ (rendah hati) di dalam belajar dan menyebarkan ilmu, beradab yang baik terhadap makhluk, terutama terhadap para ulama karena mereka pemilik ilmu yang keutamaannya tinggi dan kedudukannya mulia, maka wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk beradab terhadap makhluk. Allôh Ta’âlâ berfirman :

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS al-Furqân : 63)

Dan sabda Nabî Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam :

وَ مَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلّهِ إَلا رَفَعَهُ اللهُ

“Tidaklah seseorang itu bersikap rendah hati karena Allôh melainkan Allôh akan angkat kedudukannya.” [HR Muslim]
Sungguh indah apa yang dikatakan oleh seorang penyair :

تواضع تكن كالبدر لاح لناظر على صفحات الماء وهو رفيع
ولا تك كالدخان يعلو بنفسه إلى طبقات الجو وهو وضيع

“Tawâdhu’ (rendah hati) itu menjadikanmu laksana bulan bergemerlap bagi orang yang memandangnya di atas permukaan air sedangkan bulan itu tinggi
Janganlah kamu bagai asap yang terbang melayang meninggikan dirinya di lapisan udara padahal asap itu hina/rendah.”

Sebaliknya, perangai yang kaku keras lagi bengis, yang merasa tinggi hati lagi pembual, maka sesungguhnya sifat-sifat ini akan menghinakan seorang penuntut ilmu. Maka bersegera dan bersegeralah menuju kepada akhlaq yang mulia, dan jauhi da jauhilah akhlaq yang buruk lagi tercela! Di dalam sebuah hikmah dikatakan :

العلم حرب للمتعالي كالسيل حرب للمكان العالي

“Ilmu itu memerangi sikap tinggi hati sebagaimana banjir itu memerangi tempat yang tinggi.”

↔ 7. Menaruh perhatian di dalam meramaikan halaqoh ilmu terutama di pusat utamanya, yaitu Masjid sebagai tempat termulia dan paling dicintai oleh Allôh, dan di tempat-tempat lainnya seperti lembaga-lembaga pengajaran semisal sekolah-sekolah, atau bahkan di setiap tempat yang memungkinkan untuk menyebarkan ilmu dengan cara yang benar. Menurut salaf ilmu-ilmu yang patut difokuskan adalah :

Al-Qur`ânul Karîm dan kaidah-kaidah tajwîd bacaannya, untuk meluruskan lisân dan membenarkan bacaannya.

Tafsîr Al-Qur`ân beserta ilmu-ilmunya, yang dipilihkan dari buku-buku tafsîr salafîyah yang lurus, seperti Tafsîr Ibnu Jarîr, Ibnu Katsîr dan selainnya.

Ilmu ‘Aqîdah dalam semua babnya, beserta tahqîq (penelitian) terhadap segala hal yang menafikan tauĥîd dan mengoyak kesempurnaan I’tiqâd. Buku-buku ‘aqîdah yang mu’tabar di dalam masalah ‘aqîdah adalah “Kitâbut Tauĥîd” karya Ibnu Khuzaimah, “Kitâbut Tauĥîd” karya Ibnu Mandah, “Kitâbus Sunnah” karya ‘Abdullâh bin A­ĥmad, “Kitâbus Sunnah” karya al-Khollâl, “Ushulul I’tiqâd” karya al-Lâlikâ`î, “al-Ibânah” karya Ibnu Baththoh al-Ukbarî, karya-karya tulis Imâm Ibnu Taimîyah, Ibnu Qoyîm al-Jauzîyah dan buku-buku lainnya di dalam bidang ini, sebagai tambahan pula kitab-kitab tauhid yang termaktub di dalam kitab ash-Shiĥâh dan as-Sunan pada kitab-kitab ĥadîts. Termasuk pula buku-buku ‘aqîdah yang ada di hadapan kita di zaman ini, yaitu tulisan-tulisan dan fatâwâ di dalam masalah ‘aqidah oleh asy-Syaikh al-Imâm al-Mujaddid Muĥammad bin ‘Abdil Wahhâb, termasuk buku-buku karya putera-putera, keturunan dan murid-murid beliau dari kalangan ulama Najd ar-Robbâniyîn serta selain mereka, terutama yang patut disebut adalah penulis buku “Ma’ârijul Qabūl” dan “A’lâmus Sunnah al-Mansyūrah fî I’tiqâd ath-Thô`ifah al-Manshūrah”, seorang Allâmah di zamannya, Ĥâfizh bin Aĥmad bin ‘Alî al-Ĥakamî, asy-Syaikh yang mulia ‘Abdūl ‘Azîz bin Baz al-Atsarî, asy-Syaikh yang mulia Muĥammad Nâshiruddîn al-Albânî, asy-Syaikh yang mulia Muĥammad bin Shâliĥ al-‘Utsaimîn, asy-Syaikh yang terhormat Ĥammūd at-Tuwaijirî, asy-Syaikh yang terhormat Muĥammad Amân ‘Alî al-Jâmî –semoga Allôh merahmati mereka semua-. Juga asy-Syaikh yang terhormat Shâliĥ bin Fauzân bin ‘Abdillâh al-Fauzân, asy-Syaikh yang terhormat ‘Abdūl ‘Azîz al-Muĥammad as-Salmân, asy-Syaikh yang terhormat Rabî’ bin Ĥâdî al-Madkholî, asy-Syaikh yang terhormat Shâliĥ bin Sa’d as-Su­ĥaimî, asy-Syaikh yang terhormat ‘Alî bin Nâshir al-Faqîhî, asy-Syaikh yang terhormat ‘Ubaid al-Jâbirî, asy-Syaikh yang terhormat Mu­ĥammad bin Ĥadî al-Madkholî, asy-Syaikh yang terhormat Mu­ĥammad bin Robî’ al-Madkholî, asy-Syaikh Aĥmad Yahyâ an-Najmî, asy-Syaikh Shâliĥ bin ‘Abdil ‘Azîz Ậlusy Syaikh dan selain mereka dari para ulama as-Salaf di zaman ini, semoga Allôh memperbanyak jumlah mereka dan menjadikan mereka dan ilmu mereka bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya. Mereka semua ini memiliki karya-karya tulis yang bermanfaat dan rekaman-rekaman ceramah yang membahas masalah ‘aqîdah as-Salafîyah.

‘Ilmu al-Ĥadîts, yang dipetik darinya dan dari al-Qur`ân, fikih yang terperinci bagi rukun-rukun Islâm, Ỉmân, Iĥsân dan keterangan ĥalâl dan ĥarâm, dan perincian seluruh ĥukum yang Allôh bebankan kepada manusia.

‘Ilmu Farô`idh yang mana begitu butuhnya umat ini terhadap ilmu ini yang apabila mereka memahaminya, niscaya akan terpenuhilah hak-hak kepada para pemiliknya.

‘Ilmu as-Sîrah an-Nabawîyah dan segala pelajaran yang terkandung di dalamnya. Inilah bidang-bidang ilmu syar’iyah mulai dari yang terpenting hingga yang ke penting, dan kesemuanya ini harus dipelajari menurut tingkatan dan kebutuhannya.

↔ 8. Bersikap ar-Rifq (ramah), ĥilm (lembut) dan ‘anât (tenang) kepada makhluk pada batasan syar’i. Kesemua sifat yang baik ini merupakan sifat yang harus dimiliki du’at yang berdakwah ke jalan Allôh. Banyak sekali ayat-ayat yang terang dan tegas dan ĥ­adîts-ĥadîts yang shaĥîĥ yang mendorong untuk bersifat dengan sifat-sifat yang mulia ini. Diantaranya adalah firman Allôh :

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS al-A’râf : 199)

Dan firman-Nya :

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah Telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS Fushshilat : 34-35)

Sabda Nabî kepada Asyaj ’Abdul Qays :

إِنَّ فِيْكَ خُصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ, الحِلْمُ وَالأَنَةُ

”Sesungguhnya engkau memiliki dua perangai yang dicintai Allôh, yaitu kelemahlembutan dan ketenangan.” [HR. Muslim]
Dan sabda beliau Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam :

إِنّ اللهَ رَفِيْقُ يُحِبُّ الرِفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ

“Sesungguhnya Allôh itu Maha Lembut, dan mencintai kelemahlembutan pada segala hal.” [HR Muslim].

Sunguh indah apa yang dikatakan oleh seorang penyair :

أحب مكارم الأخلاق جهدي وأكره أن أعيب وأن أعاب
وأصفح عن سباب الناس حلما وشر الناس من يهوي السبابا
و من هاب الرجال تهيبوه ومن حقر الرجال فلن يهاب

“Aku menyukai akhlaq yang mulia maka kutekuni dan kubenci mencela dan dicela orang lain Aku berpaling dari cercaan manusia dengan kelemahlembutan dan seburuk-buruk manusia itu adalah orang yang gemar mencerca
Barangsiapa yang memuliakan orang lain maka ia akan dimuliakan, dan barangsiapa yang merendahkan orang lain ia takkan dihormati.”

Berangkat dari nash-nash dan hikmah inilah, salafîyun menganggap sifat-sifat yang mulia ini yaitu ar-Rifq, al-Ĥilm dan al-Anât- sebagai penopang dakwah mereka dan mereka pun berperangai dengannya. Oleh karena itulah Allôh menentukan kesukesan bagi dakwah mereka di setiap zaman dan tempat.

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

”Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS al-Ĥadîd : 21)

↔ 9. Pemahaman yang benar dan penerapan yang syar’i terhadap hukum al-Walâ` wal Barô` bagi Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah, yang berangkat dari sabda Nabî Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam :
أَوْثَق عُرَى الإِيْمَان الحُبٌّ فِي اللهِ والبُغْضُ فِي اللهِ

”Tali iman yang terkuat adalah mencinta karena Allôh dan membenci karena Allôh” [HR A­ĥmad].

Di dalam lafazh lain dikatakan :

أَوْثَق عُرَى الإِيْمَان المُوَلاَة فِي اللهِ وَالمُعَادَة فِي اللهِ الحُبٌّ فِي اللهِ والبُغْضُ فِي اللهِ

”Tali iman yang terkuat adalah berloyal dan berlepas diri karena Allôh serta mencinta dan membenci karena Allôh” [HR as-Suyūthî dalam al-Jâmi’ ash-Shaghîr dan diĥasankan oleh al-Albânî].

Yang semakna dengan kedua ĥ­adîts di atas, adalah ucapan Ibnu ’Abbâs radhiyallâhu ’anhu, seorang sahabat yang bergelar Turjumânul Qur`ân (penterjemah al-Qur`ân) :

”Barangsiapa yang mencinta, membenci dan berwala’ karena Allôh, maka ia akan mendapatkan wilâyah (kecintaan) dari Allôh yang tidak akan diperoleh oleh seorang hamba rasa iman ini walaupun ia banyak melakukan sholat dan puasa, sampai ia melakukan kesemua hal ini.” [Lihat Jâmi’ al-’Ulūm wal Ĥikam karya Ibnu Rojab al-Hanbalî hal. 30].
 
 

📙 Sebuah Penutup

Demikianlah kurang lebih apa yang dapat disarikan dari ulasan Fadhîlatusy Syaikh Zaid al-Madkholî hafizhullâhu. Semoga apa yang beliau sampaikan bisa menjadi bahan bercermin bagi kita semua. Semoga Allôh memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, agar dapat menjadi seorang salafî sejati…


____________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kok Banyak Larangan Ya Dalam Islam • Aulia Izzatunisa

Kok Banyak Larangan Ya Dalam Islam • Aulia Izzatunisa ~ "KAGET ..." Kaget..setelah sekian lama mengenal islam kok ternyata ini ga boleh.. Kaget...setelah sekian lama mengenal islam kok ternyata ini diharamkan. * Hati bergejolak..emosi ga karuan..Tapi setelah dibaca baca lagi kok hadisnya sohih.. Seakan akan seperti mimpi..berkali kali memastikan..bertanya pada diri sendiri..ah apa iyaa begini? Ah apa iya begitu? Kenapa ini itu diharamkan...? Wajarrrr...hal itu wajar saja kawan.. Kita sudah terbiasa melihat yang biasa orang lakukan..sudah hal biasa melihat pemandangan yg justru menurut kita tidak dosa..tapi TERNYATA DOSA DIMATA ALLOH.. Lalu kita berdalih..lah itu ajaa di tv pada begitu..lah itu mereka smua begitu kok gapapa.. AYO DICARI ILMUNYA.. jangan sampe kita udah banyak mencela ternyata malu sendiri..islam ini bukan milik si fulan dan si fulan..islam ini MILIK ALLAH, ada halal ada haram.. patokan kebenaran liat dulu apakah sesuai sama yg Rasulullah Shallallohu A'laih...

Persiapan Mati

KAPAN ANDA MATI…? . Oleh : Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى . Sobat, apa sikap anda bila secara mendadak mendapat pertanyaan seperti di atas? Terlebih bila yang bertanya adalah orang yang tidak anda kenal? . Anda marah? Anda tesinggung? Atau anda menduga bahwa penanya menginginkan kematian untuk anda.? . Tenang sobat! Anda marah atau tidak, tetap saja anda pasti mati, cepat atau lambat tetap saja mati. Namun sadarkah anda bahwa kematian anda telah ada saatnya? Tidak dapat disegerakan dan tidak pula dapat ditunda walau hanya sesaat? Allah Ta’ala berfirman: . وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَ...

Kisah Zubair bin Awwam

Zubair bin Awwam Ketika Zubair bin Awwam sedang berada di rumahnya di Makkah, tiba-tiba dia mendengar suara teriakan yang berbunyi, “Muhammad bin ‘Abdullah telah terbunuh!” Mendengar itu, Zubair pun keluar dalam keadaan telanjang dan tidak mengenakan sesuatu pun yang menutupi tubuhnya. Dia keluar sambil memegang pedangnya guna mencari orang yang telah membunuh Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena dia ingin membunuh orang tersebut. Namun betapa bahagia hatinya tatkala dia menemukan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam masih dalam keadaan hidup dan tidak terluka sedikitpun Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pun merasa heran dengan kondisi Zubair yang telanjang itu, maka beliau bertanya, “Ada apa denganmu, wahai Zubair?” Zubair menjawab, “Wahai Rasulullah , tadi aku mendengar berita bahwa engkau telah terbunuh.” Sembari tersenyum Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Lalu apa yang akan kamu perbuat, wahai Zubair ?” Zubair menjawab...

Kisah Pernikahan Sahabat Nabi

Pernikahan Sahabat Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat berharga kepada segenap pemuda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kelompok pemuda yang tidak mempunyai apa-apa.” Beliau bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ, فَإِنَّهُ أغَضُّ لِلْبَصَرِ,وَأَحْصنُ لِلْفَرْجِ,وَمَنْ لَمْ يَسَتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِا لصَّوْ مِ, فَإِ نَّهُ لَهُ وِ جَاءٌ “Wahai sekalian pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mampu maka menikahlah, karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu maka hendaknya ia berpuasa sebab puasa bisa menjadi perisai baginya.” (H.r. Bukhari, no. 5066; Muslim, no. 1400) Karena itu, para pemuda tersebut segera menunaikan wasiat Rasulullah, betapapun kondisi sulit yang tengah mereka hadapi. Kitab-kita sirah menceritakan untuk kita contoh-contoh pernikahan dini me...

Cara Meruqyah Diri Sendiri

Assalamu'alaykum #Lovalila Alila coba jawab yaa pertanyaan ini gimana caranya Rukqyah diri sendiri? . Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Sesungguhnya meruqyah termasuk amalan yang utama. Meruqyah termasuk kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih. Para nabi dan orang shalih senantiasa menangkis setan-setan dari anak Adam dengan apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya . Bismillah kenapa sih harus Ruqyah?  Ruqyah adalah sebuah pelindungan untuk melindungi orang yang terkena penyakit, hal yang perlu kita ketahui bahwa jika diri ini males-malesan, sering emosian, gelisah and sering melakukan hal-hal yang aneh, maka segeralah bertaubat dan meruqiyah diri . Cara yang Alila sering lakukan adalah 1. mensucikan diri terlebih dahulu setelah itu, banyak-banyak beristighfar, membaca Al-Quran dan yang di anjurkan . 2. Baca Al - Fatihah 1x ditiupkan ke telapak tangan 3. Baca Ayat Kursi 1x ditiupkan lagi ke telapak tangan  4. (QS. Al Baqarah: 255) 5. Baca Ayat Kurs...

Infak Utsman bin Affan Radhiallahu ‘anhu

Al-Hakim meriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu berkata, “Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa seribu dinar ketika mempersiapkan pasukan al-‘Usrah (pasukan perang Tabuk ketika masa sulit) lalu Utsman meletakkan seluruh dinar itu di pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdurrahman berkata, ‘Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membalikkannya seraya bersabda, مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ هذَا اْليَوْمِ ‘Tidaklah akan membahayakan Utsman apapun yang dilakukannya setelah hari ini.’ Beliau mengatakannya beberapa kali.” (Dikeluarkan oleh al-Hakim, dan berkata, “Shahih isnad-nya, namun tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dan disetujui oleh adz-Dzahabi.”). Pada suatu riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, غَفَرَ اللهُ لَكَ يَا عُثْمَانُ مَا أَسْرَرْتَ وَمَا أَعْلَنْتَ وَمَا أَخْفَيْتَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلىَ أَنْ تَقُوْمَ السَّاعَةُ “Semoga Allah mengam...

Hukum Ngupil Ditempat Umum

#Bismillah 🌿🌿 Hukum Ngupil Di Tempat Umum 🌿🌿 📌 Ahmad Anshori  Kemarin lusa ➡ Mhn penjelasanny terkait hukum ngupil di tempat umum. Jawaban : Bismillah, wassholaatu was salam ‘ala rasulillah, waba’du. Pada dasarnya, mengupil adalah kegiatan yang hukumnya mubah. Hanya saja akan menjadi masalah, ketika mengupil di lakukan di khalayak umum, atau cukup di hadapan orang lain. Karena ada hak orang lain yang terusik oleh perbuatan itu, yaitu menyebabkan orang yang melihatnya merasa jijik. Di sini, kita menemukan suatu sifat yang dapat membantu untuk mengetahui hukum mengupil di depan umum atau di hadapan orang lain, yaitu membuat jiwa merasa jijik (tu’afih al-anfus). Beberapa hadis menerangkan larangan melakukan tindakan yang dapat menyebabkan jijik. Diantaranya, hadis tentang larangan buang air kecil di air yang menggenang. Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda, لا يَبُول...

Kisah Kemenangan Nabi Musa dan Kebinasaan Firaun di Hari Asyura

Ketika penduduk Mesir semakin fanatik dengan kekufuran mereka. Permusuhan dan pengingkaran mereka terhadap Rasulullah Musa ﷺ kian mengobarkan hasrat untuk membunuh dan menindas utusan Allah dan orang-orang yang mengikutinya. Mereka mengikuti raja mereka yang zhalim, Firaun. Saat itulah Allah tegakkan hujjah-Nya membinasakan mereka semua. Mereka telah menyaksikan tanda-tanda dan kejadian-kejadian yang di luar nalar. Kejadian yang keluar dari proses alamiahnya. Dan membuat akal terheran-heran. Tapi mereka tetap tak mau berhenti, tak mau memahami, dan tak mau kembali kepada Allah ﷻ. Dengan kekuasaan dan kesewenang-wenangannya, Firaun berhasil menekan rakyatnya untuk mengingkari kebenaran yang dibawa Nabi Musa. فَمَا آمَنَ لِمُوسَى إِلاَّ ذُرِّيَّةٌ مِّن قَوْمِهِ عَلَى خَوْفٍ مِّن فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَن يَفْتِنَهُمْ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الأَرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ “Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan...

Pasukan Pengintai

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad An Nufaili, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, ia berkata; saya mendengar Al Bara` bercerita; ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menunjuk Abdullah bin Jubair sebagai pemimpin para pemanah pada saat perang Uhud, dan jumlah mereka adalah lima puluh orang. Beliau bersabda: "Apabila kalian melihat kami disambar burung, maka janganlah kalian meninggalkan tempat kalian ini hingga aku mengirimkan utusan kepada kalian. Dan apabila kalian melihat kami telah mengalahkan musuh dan kami memukul mereka, maka janganlah kalian meninggalkan tempat hingga aku mengirim utusan kepada kalian." Kemudian Allah mengalahkan mereka. Al Bara` berkata; demi Allah aku melihat para wanita menaiki gunung. Kemudian para sahabat Abdullah bin Jubair berkata; rampasan perang wahai kaum! Para sahabat kalian telah mendapat kemenangan, maka apa yang kalian tunggu? Kemudian Abdullah bin Jubair ...

Nafsu Syahwat Yang Disukai Nabi Dan Ulama • Aulia Izzatunisa

# Syahwat Yang Disukai Para Nabi Dan Ulama Yaitu syahwat yang halal, jima' dengan istri yang halal. Ini membuat pikiran sehat dan tenang, badan menjadi fresh dan lebih segar. Semoga para jomblo segera bisa mendapatkan jodoh dan dimudahkan, bisa mendapatkan "surga dunia yang halal" Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata, اعلم أن شهوة الجماع شهوة أحبها الأنبياء و الصالحون, قالوا لما فيها من المصا لح الدينية و الدنيوية, و من غض البصر, و كسر ...